Barisan pemuja

I

Lantai dan langit bangunan suci
Saksi baik sendi-sendimu
Memperhatikan gerak
Sayang, meski mereka tak bisa bergerak

Doa-doa memantul di marmer
Kadang  menggetarkan pijakan berdiri
yang dihadap barisan pemuja
Gerak bibirmu, tak bisa mereka tirukan

Sedang di luar sana
Di tempat parkir
Atau tepat di dekat dapur rumahmu
mendengar gemericik minyak
Ada hamba-hamba
tuhan yang kau puja
Mengeluh karena doa yang tak berkunjung
Padahal kau tahu? utusan tuhan sedekat nadi dan rizki
seharusnya kamu itu. Yang mengerti doa

II

Tumit dan tumit yang saling menyapa
dan bahu lebarmu
Bukan maksud tuhan mencipta
barisan-barisan pemuja
Yang bahkan hanya mementingkan elok
lupa dengan At-Takasur
yang saban maghrib sayup-sayup
atau Al-Ma’un yang pendek
pesan untuk makhluk-Nya
Barisan pemuja-Nya sibuk
dengan hijau, biru, merah, atau kuning
Yang semakin banyak saja
tidak baik baik saja
meninggalkan yang punya sesuap saja

 

 

 

 

Barisan pemuja

Dari Mental Block, hingga Perenungan “kenapa saya duduk disini”

“Kuliah ini gak guna”, “kuliah ini dosennya ngantuki”, “mending belajar sendiri”. Nampaknya saya kembali menggunakan istilah-istilah itu sebagai alasan saya mangkir dari jadwal kuliah saya. Walaupun -Jujur, apa yang saya alasankan itu tidak sepenuhnya benar. Kandungan kebenarannya masih ada, namun tidak dapat menjadi justifikasi daripada tindakan kurang baik saya. Tapi itulah saya, dan mungkin sebagian besar dari anda banyak yang lebih suka pada kebenaran yang secuil. Saya sendiri mengakui kesukaan saya pada yang secuil itu, tapi sungguh dengan tetap tidak kehilangan nalar saya pada yang lebih besar. Ya, saya tidak ingin meng-alasan-kan sesuatu yang pada hakikatnya terus menghalangi saya berbuat. Tapi di lain sisi saya tidak akan besar kepala apabila nantinya yang secuil tadi itu ternyata yang lebih benar. (hakikatnya sampai saat ini saya tidak begitu mengerti apakah kuliah saya benar-benar “matters” bagi kehidupan saya di masa depan?”).

Yang jelas saya tidak pernah sesembrono untuk mengungkapkan pada khalayak supaya ga usah kuliah.

Baiklah, pembaca blog saya yang jarang-jarang. Sedikit tulisan di awal tadi adalah kondisi batin saya saat ini., sekaligus tentunya pengantar dari tulisan saya. Tapi ketahuilah itu juga berasal dari kuliah-kuliah yang saya ikuti. Saya sendiri bukanlah orang hebat dalam mengingat sesuatu. Saya butuh konsentrasi luar biasa sehingga menyebabkan lelahnya mata untuk dapat menghapal sesuatu. Usaha saya kadang juga tidak diganjar dengan baik, dalam beberapa hari ingatan tentang kuliah bisa menguap begitu saja (tapi saya mulai menerima ini). Belum lagi tentang kondisi kejiwaan saya juga yang akhir-akhir ini selalu saya pertanyakan. Barangkali kejiwaan saya lah yang menyebabkan apapun yang saya ungkapkan tidak mesti berakhir dengan situasi logis dan mudah dipahami. Beberapa teman mengkritik saya dengan kemampuan saya untuk mengungkapkan sesuatu dengan tidak runtut dan suka loncat-loncat. Ada sesuatu yang menyebabkan informasi dalam otak saya tidak tersimpan secara rapih, namun tersebar berserakan. Saya merasa tidak perlu mengungkapkan apa yang tidak perlu saya ungkapkan. Saya rasa semua orang telah mengerti apa yang “akan” saya katakan jadi untuk apa saya katakan lagi? Tapi, Wah sebetulnya itu adalah jawabannya. Seringkali karena hal tersebut, bicara saya tidak pernah panjang dan terurai dengan baik. tapi laiknya file .pptx “hanya bagian penting” yang ditampilkan. Orang-orangpun tidak paham.

Kembali kepada persoalan yang dibahas diawal.

Teman saya seorang calon psikolog menjelaskan keadaan saya dengan istilah yang tidak asing : “mental block”. Lebih kurang saya mengartikannya dengan “keadaan imajiner yang diciptakan oleh individu untuk beralasan tidak melakukan sesuatu”. Ya begitulah artinya, tapi saya memang tidak membutuhkan dan menggunakan istilah psikologi itu untuk paham kondisi saya. Saya cukup paham, bahwasanya inilah sebenar-benarnya penyakit! Penyakit Senang Menunda-Nunda (PSM). Senang menunda berakibat fatal pada kecanduan menunda. Luar biasa pengaruh menunda pada hidup. Pengalaman menunda saya  sampai pada kesimpulan : “Menunda adalah kegiatan menabung kelelahan jiwa, fisik, finansial, sosial, serta berbagai dimensi yang tidak pernah diduga oleh orang yang menunda, Ia akan kembali kepada pemiliknya di masa depan dengan membawa serta bunganya siap tidak siap”. Beberapa dari kita mungkin pernah pernah bermasalah dengan hal-hal sepele yang akhirnya meruntuhkan seluruh rencana besar kita. Beberapa merencanakan liburan yang baik, tapi ternyata menunda membeli tiket akhirnya berakibat sangat fatal. Beberapa ada yang meremehkan dengan melakukan packing barang sejam sebelum berangkat dan mendapati barang yang ingin di-packing ternyata tidak dapat ditemukan. Mengerjakan tugas kuliah juga menjadi objek penunda-nundaan, akibatnya harus suntuk semalaman untuk menyelesaikan tugas itu. Itupun *kembali ke bahasan awal* jika mahasiswa merasa cukup penting untuk mengerjakannya dan tidak menganggap remeh sebuah mata kuliah. Sampai disini saya ingin memberi konklusi sekaligus mengingatkan bahwasanya apa yang kita tunda-tunda itu apapun yang terjadi sesungguhnya akan kita kerjakan, kecuali jika kita tidak merasa penting akan hal itu (mental block). Konklusi selanjutnya, apapun yang kita tunda dan tidak dikerjakan hasilnya akan selalu -amat sangat sering sekali :(- lebih buruk daripada jika tidak kita tunda ataupun kita kerjakan apalagi jika hal itu adalah kebutuhan kolektif. Toh akan kita kerjakan, ngapain ditunda? mumpung ada waktu ndang dikerjakan saja

Sebuah uraian perlu saya sampaikan mengenai apa yang saya peroleh daripada kuliah saya di sebuah kesempatan. Untung saja meskipun seperti yang saya katakan ingatan saya buruk, tapi tetap ada momen tertentu yang amat berbekas dalam benak saya. Saya tertegun waktu itu dengan sebuah pertanyaan retoris dari dosen”apa kalian paham kenapa kalian duduk disini?”. Dosen itu melanjutkan “barangkali kalian duduk disini cuman ikut-ikutan teman saja, tapi tidak paham kenapa kalian bisa sampai disini. Tubuh kalian ada disini tapi pikiran kalian mungkin tidak ada disini. Kalau begitu buat apa kalian kuliah?” Entah kenapa walaupun saya sering mendengar pernyataan semacam itu, tapi ada sesuatu yang berbeda di kala itu. Saya berpikir dalam-dalam. Pikiran saya seketika menerawang masa depan,  juga tentang tokoh-tokoh tanpa gelar S.I.P., M.Si., atau Doktor. Mereka yang bisa sukses tanpa gelar itu ikut jadi bahan renungan saya. Wah, saya bahkan jadi berpikir kuliah jadi tidak penting lagi, apalagi dengan melihat progress saya yang tidak begitu baik di keilmuan yang seharusnya saya pakari. Tapi… snap out of it! bukan itu poin sebenarnya dari apa yang dikatakan dosen (setidaknya menurut tafsirku). “Ayolah jangan kepalang tanggung” itu yang justru saya tafsirkan -saya dapat juga istilah ini dari ceramah mengenang pak said tuhuleley-. Kalaupun saya kuliah saat ini, maka ajaran “jangan  kepalang tanggung” itu berarti ajakan menemukan esensi dari duduk di sebuah bangku perkuliahan dengan segala konsekuensinya. Ada permintaan terselubung supaya menemukan alasan berikut tujuan daripada sebuah “perkuliahan”, lebih lanjut lagi menjadi seorang “mahasiswa”.

Meskipun belum mencapai kesadaran itu, setidaknya saya  berusaha menemukannya lewat proses ini termasuk dengan serangan mental block yang sudah mulai mencandu dimana-mana.

 

Dari Mental Block, hingga Perenungan “kenapa saya duduk disini”

Alasan Sebuah Hubungan

Kaku dan tidak humanis. Barangkali itu yang teman-teman di fakultasku berpikir tentang aku. Lebih mengerucut, yaitu teman-teman yang belum mengenalku. Aku berasumsi demikian karena melihat statistik kenalanku yang tidak begitu menunjukan tren positifnya (bahkan di jurusanku sendiri) . Banyak kakak angkatan yang jarang aku kenal dengan mereka, pun jika dahulu sudah kenal dan lumayan dekat ternyata sebetulnya tidak sedekat itu. Tren kenalan cenderung stagnan dan bahkan berkurang.

Aku sebetulnya bukanlah orang yang kaku-kaku amat. Di awal kuliah memang aku memamerkan sisi fundamentalis Islamku (ikut bahasa pop), lewat tidak mau salaman dengan akhwat, ga pernah misuh, dan/atau bersikap jauh lebih tenang dan tidak reaktif dengan guyonan. Salah satu kontra-sikap dengan jurusanku, Ilmu Komunikasi. Layaknya aku memulai sebuah perang terhadap kebiasaan dan tradisi yang ada sedjak lama itu. Seperti yang jama’ diketahui oleh khalayak ramai, bahwasanya jurusan ilmu komunikasi itu seharusnya begini-begini, begitu-begitu. Aku yang lulusan pondok, tidak punya teman di Jurusanku. Sedihe cah. (itu diawal yo)

Aku percaya, “pertemuan sehingga berkenalan dan berteman” adalah destiny. Something designed, telah dirancang oleh Yang Kuasa. Sama seperti kita tidak bisa memilih dilahirkan seperti apa, pertemuan dengan orang lain juga tidak dapat kita pilih-pilih. Sehingga jangan mengeluh kenapa dulu tidak dilahirkan bertetangga dengan Raisa, atau tidak sekolah bareng dengan Maudy Ayunda. Kenalan kita, teman kita, itu adalah yang paling baik buat kita. Diantara mereka ada yang membuat kita makin berkualitas, tapi ada juga yang akhirnya mengecewakan kita. Meski pada akhirnya kita sama-sama dapet manfaat dan pelajaran dari dua tipe manusia itu.

Dimana dan kapan kita bertemu dengan teman kita? Jawabannya dapat bertemu dimana dan kapan saja. Ada yang didasarkan karena kesamaan daerah, sekecamatan, se-organisasi, sekelas, sesekolah, se-beasiswa, dsb. Alasan itu menjadi pengikat kita dengan teman kita. Di kemudian hari alasan itu juga ikut berubah menjadi memori unik atas hubungan kita dengan seseorang.

Tidak mesti semua orang merenungkannya, tapi ini sempat terpikirkan olehku. Sebetulnya alasan-alasan itu tadi tidak akan pernah membuat sebuah hubungan terjalin dengan baik. Tidak tanpa adanya keinginan untuk berteman, the desire to be friend. Mau kita sekosan ama dia setahun dua tahun, kita gak akan jadi temannya kalau belum makan bareng, nongkrong bareng, atau main futsal bareng. Artinya ada usaha kita untuk lebih mengenal orang tersebut. Selain itu juga perlu nih ditumbuhkan oleh kita keinginan untuk percaya dengan teman kita, bukan percaya dengan teman kita. Ketika kita ingin percaya dengan seseorang, maka meskipun teman kita ini suatu saat mengecewakan kita (tidak ada yang sempurna) kita akan memaafkannya dan tidak justru beralih menjadi tidak percaya. Ini sebenarnya kunci daripada memulai hubungan apapun dengan baik. Kita berusaha untuk meyakinkan diri kita bahwa dia adalah teman kita, sahabat kita, pasangan hidup kita dan untuk itu tidak akan pernah menginginkan keburukan bagi kita.

Kembali tentang alasan berteman tadi, jadi jangan pernah kita berpikir tentang kedudukan/nilai sebuah alasan bisa bertemu atau berkenalan. Kenalan gak sengaja pun bisa menjadi sahabat dekat atau bahkan pasangan kita sekalipun. Meskipun kita diikat oleh hanya karena beasiswa/uang/pekerjaan/kepanitiaan selama kita ingin menjadikan sosok dia sebagai bagian daripada kehidupan kita, maka kamu akan menemukan kenyamanan pada sosoknya. Let’s be friend!

 

Alasan Sebuah Hubungan

Teknologi Komunikasi : Buku

Teknologi Komunikasi: Buku

“Buku membawa pembacanya terbang menemui dan berdialog dengan penciptanya, mengabaikan aturan waktu dan tempat”.

Alhamdulillah, saya sendiri tidak berkeberatan jika disuruh membaca buku tapi sedikit tidak bersemangat jika diminta untuk meresume. Banyak hal yang kita ketahui sesungguhnya tidak pernah atau belum kita alami sendiri. Sebagian besar berasal dari pengalaman orang lain yang kemudian dituliskan. Lewat buku yang kita baca, buah pikiran dan pengalaman dari penulis menjadi pelajaran dan pengetahuan bagi kita. Penulis buku mungkin sudah tiada, namun buku yang ditinggalkan mereka mempunyai usia yang sangat panjang. Buku-buku itu menjadi faktor utama peradaban manusia semakin maju. Generasi selanjutnya tidak perlu memulai sesuatu dari nol lagi. Cukup berinovasi dan mengembangkan apa yang telah ditemukan oleh generasi sebelumnya.

Buku yang saya bicarakan adalah buku yang memanfaatkan olahan serat kayu, buku yang dapat kita cium aromanya, bukan buku di memori laptop yang telah melewati proses digitalisasi. Saya lebih menyukai buku yang menggunakan kertas sebagai medianya. Alasannya adalah lebih nyaman untuk dibaca, lebih fokus, dan lebih terasa kalau memang sedang membaca buku.

  1. Membaca tulisan yang ada di atas kertas, menurut saya lebih nyaman dibandingkan harus membaca tulisan di layar laptop;
  2. Terasa lebih fokus, salah satunya karena tidak akan ditemui pekerjaan aplikasi-aplikasi semacam pengingat baterai yang akan drop;
  3. Dan alasan yang terakhir adalah karena itu buku, buku yang seharusnya (dalam mindset saya).

Teruntuk mahasiswa, buku menjadi unsur yang penting dalam perkuliahan. Ia menjadi yang utama dalam daftar referensi di tugas-tugas paper perkuliahan. Tanpa ada cantuman nama buku maka paper bisa-bisa dianggap tidak valid. Alasannya, buku menjadi yang paling dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan dengan referensi yang lain. Apalagi jika dibandingkan dengan informasi di internet yang cenderung asal, dan diragukan kevaliditasannnya.

Tapi yang pasti buku memiliki banyak sekali manfaat. Tidak perlu disebutkan. Manfaat dilihat dari banyak perspektif dan juga pengalaman masing-masing orang. Lebih spesifik lagi, bukan hanya jadi bahan referensi di tugas kuliah mahasiswa begob yang hanya ingin dapat nilai A. Hehe.

http://www.hijraulyalbebian.wordpress.com

Teknologi Komunikasi : Buku

Bahkan Pun Sampai pada Pahala Anda.

“Ada rasa sesal, sedikit. Mengulur waktu kembali ke kampung halaman, padahal bisa lebih cepat beberapa hari. Menolak untuk ikut membantu acara, karena alasan yang tidak pasti”

Tanggal 6 Juli, Alhamdulillah bisa pulang kampung naik Bus Efisiensi. Diantar dulu sama mas-mas kos ke agen di dekat perempatan ringroad utara Jogja. Motor honda kami ternyata hanya terpaut beberapa detik dengan kedatangan Shuttle bus efisiensi yang akan mengantarkan ke ambarketawang, HQnya efisiensi di Jogja. Ada beberapa hal menarik memang menyoal bus “tolelot” ini. Kalau anda ke ingin ke Jogja dari Cilacap atau sebaliknya, pasti dah pilihan paling joshh pake bus ini. Gak begitu mengerti, tapi sedari saya kecil, sekitaran SD, Efisiensi sudah memonopoli urusan transportasi jurusan Jogja.Terbukti dengan percakapan sehari-hari ketika orang-orang selalu menyebut-nyebut efisiensi ketika mereka bepergian ke Jogja. Terbilang murah, nyaman, dan eksklusif menurut saya. Ada isu-isu yang beredar bahkan, armada-armada yang digunakan Efisiensi rutin diganti (bukan diservis)  dengan tipe yang lebih baru setiap 2 (dua) tahun sekali. Bus-bus lama itu dijual kepada nama-nama lain perusahaan transportasi bus. Haha, boleh juga.

65 ribu rupiah, ongkos saya pulang ke Cilacap. Kalau pakai perhitungan untung-rugi, sebenarnya uang senilai 25 ribu rupiah tidak begitu masalah. Masih lebih prefer untuk naik bus patas daripada bus yang harus sedikit-sedikit berhenti saat perjalanan. Tidak nyaman untuk tidur. Hehe. Oke, jadi saya ketika naik bus hampir selalu tidur. Sebenarnya di motor ketika membonceng pun saya bisa jadi sering terkantuk-kantuk, dan kadang dimarahi ketika dua helm saling beradu . . .

Bahkan pun Sampai pada Pahala Anda

Bangun tidur di tengah perjalanan, secara ajaib tiba-tiba di sebelah saya sudah ada seorang perempuan tua yang mencari tempat untuk duduk. Seorang petugas bus yang biasanya mengecek tiket dan juga membagikan jatah air minum (kendati bulan puasa) dengan sigap mengamankan tas konvensional milik saya. Tas saya itu dengan nyaman sedari tadi sepertinya ikut tidur di tempat duduk kosong di sebelah tempat duduk saya. Tidak sadar kalau ada yang lebih berhak menempati.

Laiknya petugas bus itu, saya juga ikut sigap mempersilakan nenek tadi supaya duduk di sebelah saya, sambil mengucap “maaf” mewakili tas saya. Saya duduk di deretan jok kedua paling belakang. Sebenarnya, kalau saya mengikuti aturan karcis, saya mendapatkan jok nomor 10, jauh di depan sebelah kiri yang aisle. Tapi ah, ternyata saya (sedang) tidak ingin sebelah saya seorang cewek. Jadi saya melengos saja ke belakang, sambil berharap tidak ada yang terdzolimi oleh tindakan saya. Toh masih ada tempat.

Nenek itu ternyata tidak begitu ramah. Begitu pikirku, ketika aku memberinya tempat untuk duduk. Apa gara-gara mataku yang mungkin sedang merah bangun tidur, jadi sapaanku kurang dapat perhatian? Ah yaudahlah lanjut tidur lagi saja. Di belakang tempat duduk saya ada seorang kakek. Nenek itu ternyata bersama pasangannya, seorang kakek yang sudah memutih rambut kepala dan juga dagunya. Ah ya udahlah tidur lagi saja. Saya sama sekali tidak kepikiran tentang menjadi orang ketiga dalam kisah perjalanan mereka -_-.

Dan oh, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang kurang. Saya ingat, saya salah. Hahaha, pantesan nenek itu tidak ramah. Saya menjadi pemisah antara mereka. Benar saja, “Silahkan pak duduk di tempat saya, biar saya yang di belakang “, Nah, nenek tadi langsung bilang “terimakasih dek,” air mukanya pun jadi berubah. Bahagia. Ah memang dasar, pikirku sama diriku, gak peka banget.

Di saat seperti itu saya mendapatkan pelajaran. Ya bukan soal peka saja. Saya yakin betul, selama lebih kurang 15 menit, nenek itu pasti berdoa dalam hati. Yaitu rentang waktu ketika saya yang duduk di sampingnya. Berdoa supaya suaminya yang duduk di sampingnya. Bukan orang lain. Nenek, begitu juga kakeknya sedang berada dalam posisi tanpa hak untuk menggusah saya dari tempat duduk yang jelas saya lebih dulu menempati. Maka do’a saja. Ajaib, dan ternyata betul, orang yang duduk di sebelah nenek itu akhirnya dengan sukarela memberikan tempatnya kepada pasangan itu. Padahal lagi pewe dan mau lanjut tidur :3.

Saya sempat berpikir, gara-gara tindakan saya itu, “wah saya memang orang baik”. Benarkah demikian? Tahukah anda, dari uraian saya tadi, poin saya adalah bahwa kebajikan pun dan pahala yang kita usahakan sebenarnya adalah dari kemurahan yang Allah SWT. beri. Saya eksplisitkan lagi; Dengan saya yang memberikan tempat kepada kakek itu, kalau itu dinilai sebagai sebuah kebajikan dan berbuah pahala, maka itu sebenarnya adalah karena Allah memang ingin memberi kita pahala. Penjelasannya sebenarnya sederhana, tapi bisa menjadi sangat panjang. Tapi pada intinya, do’a itu tadi, atau paling tidak pikiran yang terbesit dalam benak nenek tadi, itulah yang menyebabkan saya digerakan untuk berbuat. Allah bisa jadi ingin memberikan hati yang bahagia dan nyaman untuk nenek tadi, dan lewat perantaranya sekaligus ingin memberi saya pahala. Pahala pun sesungguhnya diatur oleh-Nya. Maka jangan sekali-kali diri anda merasa paling baik sehingga menjadi takabur.

Pahala pun Diatur oleh-Nya . . .

Bahkan Pun Sampai pada Pahala Anda.

Demonstrasi dan Aksi

Demonstrasi dan aksi

Berisik betul diri saya ini. Begitu perasaan saya, ketika berulang kali saya mengatakan : “Ingin ikutan demo”. Tidak kepada semua orang. Tidak begitu.

Sedari mbrojol, sepertinya saya ini bukan tipe orang yang setuju dengan demonstrasi. Demonstrasi bagi saya, feat ocehannya TV tabung kesayangan (2002-2011) tidak lebih dari keonaran mahasiswa. Tidak tahu, kenapa kalau bicara demo mesti ujungnya ke mahasiswa, padahal ya tidak semuanya yang ngelakuin mahasiswa (Ah capek denger dan baca kata “mahasiswa”, ganti ya, mahasiswa saya ganti menjadi “wajah hitam”). Tapi sebenarnya demonstrasi itu begitu luas definisinya. Dan sebab keluasan itu, maka saya yang tadinya antipati dengan demonstrasi (terutama sama yang bakar ban dan pakai acara lompat-lompat), kini menjadi lebih toleran dan memaklumi, apalagi sama demonstrasi yang beradab dan bermartabat. Namun, sepertinya masyarakat sudah kadung terinstalasi dalam diri mereka (kendati mulai tergeser), demonstrasi ya itu… macet, blokade jalan, teriak-teriak. Protes massal.

Demonstrasi banyak kok yang ngelakuin bukan hanya wajah hitam. Mulai dari yang kita tahu, Annual tiap bulan Mei. Saya kadang-kadang wonder dan curious tentang kegiatan besar di bulan Mei itu, mungkin bisa dibuat skripsi (lah-elah). Interest Group juga sering bikin aksi gitu, apalagi kalau sudah muncul kebijakan pemerintah yang menabrak AD/ART mereka. Masyarakat umum juga pasti melakukan aksi kalau lantas mereka merasa sebagai pihak yang terdzholimi. Pernah kan? ada suatu era dimana berita di TV itu banyak sekali penggusuran rumah-rumah warga. Selain mengajukan banding ke pengadilan, pasti mereka memperjuangkan keyakinan mereka dengan demonstrasi. Mau gimana lagi?

Demonstrasi, kalau di tempat kami disebut sebagai “aksi”. Saya rasa kosakata aksi ini memang memiliki daya tarik, kekuatan dan definisi sendiri. Dalam benak saya, aksi itu lebih terdengar gagah dan cool. Dalam aksi, kita bisa melayangkan protes, membagikan bunga, meneriakan simpati, menggelar sandiwara jalanan, atau langsung menyingsing lengan baju ini!

Demonstrasi yang pro-aktif

Kebanyakan demonstrasi itu reaktif, saya akui. Masih jarang-jarang demonstrasi yang pro-aktif. Mungkin itu yang diinginkan para wajah hitam mengapa kegiatan turun ke jalan itu kemudian disebut aksi, bukan sekadar protes lewat corong TOA. Sebenarnya definisi pro-aktif itu masih agak ambyar di cunong saya. Tapi saya memaknainya sebagai “aksi yang mengangkat ke permukaan masalah-masalah yang tidak menjadi isu”. Masalah yang tidak (bisa) terkaver oleh media massa. Aksi yang pro-aktif disulut oleh kepekaan terhadap lingkungan, kegetiran diri melihat keadaan, keinginan untuk memperbaiki. Kepekaan yang baik ini kemudian akan mengantarkan pada aktifitas berpikir, yang memunculkan inisiatif. Proses akan berlanjut hingga ujungnya, yakni tindakan nyata. Turun ke jalan, dengan konsep yang apik.

Aksi pertama yang damai

Berisik betul diri saya ini. Begitu perasaan saya, ketika berulang kali saya mengatakan : “Ingin ikutan demo”. Tidak kepada semua orang. Tidak begitu.

Saya yakin, perasaan antipati saya sebelumnya terhadap segala bentuk macam demonstrasi bisa dijelaskan lewat teori kultivasi, hehe. Ada peran besar dimana TV dalam hal ini membingkai seolah demonstrasi adalah tindakan yang amat buruk. Media hampir selalu mengambil angle ketika demonstran main dorong-dorong pagar dengan pak polisi, atau membuat kepulan asap hitam di tengah jalan menggunakan ban yang sebenarnya bisa digunakan untuk ayunan. Bertahun-tahun terpapar informasi seperti ini, orang tua saya selalu menasehati supaya tidak ikut demonstrasi nanti kalau sudah kuliah. Aku yang masih cecunguk saat itu, tentu saja mengiyakan, apalagi setelah berulang melihat ayunan itu dibakar.

“Aku ingin ikut demo, entah gimana caranya aku akan ikut yang tanggal 20 Mei itu”. Saya berulang kali mengatakan itu pada orang-orang. Spirit untuk ikut demo di semester dua ditambah rasa muak dengan pemerintahan bersangkutan menyebabkan keinginan itu muncul pada benak. Berbagai kebijakan yang tidak populer, tidak pro-rakyat itu susah untuk ditangkap oleh nurani sebagai kebaikan. Rasional mungkin bisa menerima sebagai kebaikan, tapi rasional juga dapat menolaknya. “Simple kok,” seperti yang diungkapkan ketika makan bersama dengan pimpinan ACT Yogya “Rakyat itu inginnya hanya harga sembako murah, kesehatan mudah, pendidikan baik. Ketika ini tidak terpenuhi, maka kita kritik”.

Saya ingin kebijakan pemerintah yang pro-rakyat.

Entah saya yang tidak mau cari tahu lebih, atau memang tidak ada demonstrasi untuk mengkritik lembaga eksekutif pusat di Yogyakarta. 20 Mei itu sepi. Wara-wara berbicara, yang mau ikutan demo harus merogoh sedikitnya 250 ribu untuk biaya ke Jakarta. Ternyata saya masih mikir-mikir dengan urusan uang, hahaha. Selain itu, demonstrasi ke Jakarta itu umpama sebuah close-rec yang diadakan oleh BEM-KM, padahal mungkin banyak pihak yang ingin ikut meski harus terbakar sinar matahari di Ibukota, kendati harus mengais-ngais recehan yang mungkin jatuh di kolong tempat tidur.

Pada Akhirnya saya tidak ikutan demonstrasi yang sudah saya rencanakan berbulan sebelumnya (bego). Memang tidak baik untuk terlalu menggebu, ia bisa menyebabkan kekecewaan. Tidak baik lagi kalau rencana tidak ada spiritnya, alias “omdo” yang akhirnya rencana tidak jalan sama sekali, rencana sedari awal memang tidak untuk dikerjakan. Saya yang tidak jadi demo, memang tidak kecewa sih, cukup mereka yang lebih jago ngomong dan punya modal untuk menyambung pikir dan rasa kami. Disini ada yang lebih penting yang banyak orang tidak menggubris, tertutup oleh berita demonstrasi terhadap Jokowi.

Rohingya, sebuah isu kemanusiaan ini menjadi tempatku untuk merealisasikan spirit ku untuk aksi.

Maha suci Allah SWT. yang telah memilihkan kanal paling baik untuk kami. Sementara para pegiat aksi dan propaganda dari BEM-KM berangkat ke Jakarta, isu kemanusiaan yang butuh pengawalan serius ini muncul. Saya sendiri sangat apresiasi kepada inspirasiku mas Najmi, pimpinan kastrat jama’ah shalahuddin yang telah mencurahkan tetesan keringatnya demi saudara “muhajirin”.  Beliau sudah 3 hari sebelum aksi UGM bersimpati, bolak-balik ke berbagai tempat, berdiskusi dan berkoordinasi dengan banyak pihak, semua demi membantu mereka yang terdzholimi ini. Tidak ada sebelumnya, di Universitas manapun yang mengangkat isu Rohingya di tanggal-tanggal itu (19,20,21 Mei). UGM memulainya pada hari Jum’at, tanggal 22 Mei di waktu Ashar sebuah aksi untuk Rohingya.

Kontribusi saya memang tergolong sedikit, tapi saya excited dan bersyukur untuk aksi pertama saya. Aksi pertama saya adalah aksi kemanusiaan, aksi untuk menolong saudara kita yang tertimpa musibah. Tugas saya sederhana, saya hanya membawa X-Banner bertuliskan “Solidaritas untuk Rohingya” lengkap dengan no. rekening untuk membantu mereka. Saya juga sempat pakai TOA, mengajak masyarakat Yogyakarta untuk ikut peduli terhadap isu kemanusiaan ini. Aksi yang diinisiasi oleh JS dan Sosmas BEM-KM, dan didukung oleh banyak organisasi lain intra kampus ini sebenarnya adalah rangkaian strategi yang serius untuk membantu Rohingya. Saya sendiri ikut bahagia karena banyak pihak yang mau ikut membantu. Untuk penggalangan dana, kami menggaet ACT yang kami anggap tepat, dan memang terbukti telah tanggap membantu etnis Rohingya di Aceh sana.

Kita Butuh Aksi

(Ingat, saya baru sepisan ikutan)

Kegiatan turun ke Jalan saya meyakini adalah sesuatu yang statusnya saat ini: Perlu! Mungkin ada yang mengatakan bahwa “aksi” adalah sesuatu yang norak, picisan, atau tidak efektif dan sebagainya. Bagi saya, aksi tetap diperlukan dan penting untuk diperlukan dan dilakukan (tapi jangan semua juga dibuat aksi ya, kalau gitu bener noraknya, aksi itu yang rasional dan tepat) . Kita bisa kok, mengadakan aksi atau demonstrasii yang baik. Kalau semua orang hanya membaca saja, atau hanya menulis saja kegelisahannya, tanpa dituangkan dalam bentuk nyata (aksi) maka tidak akan ada yang namanya perubahan. Semua unsur untuk melakukan perubahan penting. Wajah hitam perlu menulis, membaca, diskusi, diplomasi, negosiasi, dan tentu memerlukan aksi. Masing-masing faktor perubahan itu harus diintegrasikan, sehingga memunculkan animo yang baik dan didukung oleh banyak orang, meskipun menentang apa yang ada di media massa. Aksi sendiri bisa menjadi kanal untuk memberikan wawasan, awareness pada masyarakat. Masyarakat yang tidak tahu menjadi tahu, dan besar kemungkinan menyebabkan keinginan untuk ikut berkontribusi dalam gerak langkah bersama.

Narasi besar ini belum selesai, kita butuh banyak lagi narasi-narasi yang kemudian bersatu menjad narasi yang akan mengubah teman-teman, saudara-saudaramu, lingkunganmu dan negaramu

Demonstrasi dan Aksi

Mei di Tahun ini: A Play, A Game

Bulan Mei adalah bulan istimewa. Ya, saya juga ingin mengatakan karena ada tanggal 1, 19, dan 30 disini. Tapi itu hanya salah satunya, ada banyak sekali yang terjadi di bulan ini, seakan bertumpuk disini simpulan dari rentetan kejadian, keputusan di bulan sebelumnya. Karena itu saya berpikir untuk lebih banyak berefleksi dan berintrospeksi. Tidak, saya tidak sakit hati ketika dibilang sampah, juga tidak sakit hati ketika banyak yang menggunjing. Saya rasa saya punya banyak alasan untuk tidak begitu memikirkannya lagi. Selain karena kebanyakan itu datang dari ketidaktahuan mereka dan orang spesial itu.

Bulan Nggendang

Bulan Mei adalah bulan istimewa, saya yang pada awalnya memang iseng membantu Rampoe Tujalahe (mayoritasnya cewek) akhirnya teradaptasi. Ya, dua kali di bulan Mei saya tampil memukul-mukul jimbe, mengiringi mereka menari. Senang rasanya, hehe bagi saya itu 101 % hiburan, dan bentuk istirahat. Setiap kali latian tidak ada beban, banyak candaannya, saya hanya bisa ngekek setiap kakaknya bilang “dasar perempuan pura-pura baik, munafik!, ga usah nasihat-nasihatin gue!”. Beberapa anggota ada yang bilang aneh ketika saya harus membuat tulisan semacam sandi morse atau apalah itu di kertas sebagai cara saya menghapalkan “dum tak dum”nya. Tapi pun, mereka akhirnya memaklumi dan suka juga hahaha.

Bulan Drama

Bulan Mei adalah bulan istimewa. Bulan sandiwara, bulan para aktor dan aktris beradu akting. Boleh saya kata, “bulan Mei adalah bulan drama”. Saya dan teman-teman saya sedang excited sekali dengan drama. UAS mata kuliah adalah drama, bukan main. Setiap minggu, ada 2 kelompok yang memamerkan skenario cerita, kemampuan akting, dan kemampuan entertain, ngebanyol. Sehabis Ashar, di hari Selasa, sayang kalau sampai TA deh. Kelompok drama kami yang kami kasih nama “Do’a Ibu” -meskipun tak ada sangkut sedikitpun sama drama yang kami bawa- ternyata berhasil menyabet gelar terfavorit. Saya hanya mengangkat alis sebelah ketika ada yang mengatakan, “wah gara-gara doanya Bian”. Saya ngekek, sekaligus sedih, duh kalian harus ngerti, “Ini juara favorit harus bela-belain nalak berkali-kali (diitung sejak latian)”. Alasan lain, karena perempuan di kelompok kami, percaya “The power of Baper”. Yaa ternyata boleh juga, saya mau tak mau jadi mengakui. Se-pack gary chocolatos, teriakan senang dari mantan istri (drama), dan L jadi hadiah.

Mengikuti panasnya drama di perkuliahan, seakan efek pada konduktor yang nyalurin panas, di luar juga ikutan panas. Tepat setelah The Last : Drama (memunculkan suku malam dan siang, penampilan sisi lain Atikah, dan logat yang familiar bagi saya) pengumuman nilai UTS Komunikasi Antar Manusia, dan pengumuman yang favorit-favorit itu, kami meluncur lagi nonton sandiwara. Kali ini kelasnya lumayan, yang nonton orang-orang se-Jogja, di Taman Budaya Yogyakarta. Alasan utama kami nonton drama ini (termasuk 2 drama yang lain) yaitu karena ada “Tikus”. Bayu Nugroho, seorang karib kami di Komunikasi ’14 main di Elegi Sang Singo Barong, sebuah drama kolosalnya Etnika Fest. Prestisius!

Lanjut lagi, di Selasar Barat yang oleh mas Rudy disebut “Hall”, ada unjuk akting dari kawan saya, mantan “Anak-anak Manusia”, cak Nun Lover. Yoga Pramudya, yang main di Teater Selasar. Dia jadi seorang preman, anda bisa menjudge sendiri soal kecocokannya di sehari-hari perkuliahan dengan jaket jeans khasnya. Kali ini, drama lebih mengarah pada sesuatu yang kontemporer dan hari ini terjadi (isu identitas kemahasiswaan, kelas sosial), cukup menyentil, walaupun sebenarnya tujuan bagi yang datang atau yang pentas biasanya tidak jauh-jauh dari :entertain”. Tapi, malam itu Hall disesaki orang-orang, tidak sedikit yang berdiri. Teater Selasar sukses membuat Security muring-muring soal penuhnya tempat buat parkir, hehe. (Malam itu, Jum’at 29 Mei,setelah sesi foto dan ajakan makan-makan yang saya tolak, saya bertolak ke HI-LAB (selatan kridosono) ke sebuah acara yang masih ada hubungannya dengan makan-makan dari sebuah komunitas unik)

Terakhir, tanggal 30 Mei, penampilan dari Al-Wafi dengan logat yang tidak dapat dia sembunyikan. Teater Gadjah Mada menampilkan angkatan barunya dengan proyek pertama mereka, “Wanita Rumah Sebelah”. Untuk masuk ke tempat live acara, cukup susah. Niat baik saya pada dua orang Strangers, “menemani” jalur mereka menuju tempat itu malah dibuat memutar-mutar, hmm. Ada banyak yang datang menonton, tapi sayang, drama yang banyak memutar rekaman suara gayung dan siraman air itu, saya tidak selesai menikmati.

a Play, a Game

Menyambung soal drama. Di  bulan ini semakin hari, semakin saya memaklumi, menyadari, bahwa hidup ini memang hanyalah sandiwara, “a Play”, “a Game”. Dimana siapa-siapa memerankan tokohnya sendiri , beradu akting dengan mereka tokoh-tokoh lain di lingkungannya. Tergantung anda ingin menjadi tokoh seperti apa dengan “gift” yang telah Allah berkati kepada anda. Tokoh yang lain akan mengikuti cara bersandiwara anda, berimprovisasi dan menyusun naskah sendiri. Para tokoh, mereka sekaligus adalah penonton yang akan menjudge watak, kepribadian, kemampuan akting anda, baik, buruk, pantas atau aneh. Tapi ada satu peraturan disini, di drama dan permainan ini. Mengutip perkataan Alan Watts, LIFE IS A GAME WHERE RULE NO.1 IS:

THIS IS NO GAME, THIS IS SERIOUS.

Mei di Tahun ini: A Play, A Game